Oleh: Cindikha Mira Utami, Mahasiswa Pendidikan Biologi, Universitas Riau
DARIRIAU.ID — Tumbuhan di halaman sekolah yang layu, sampah yang berserakan di bawah pohon, dan selokan yang tersumbat sering dianggap hal biasa. Padahal, semua itu adalah bahan belajar Biologi yang nyata. Sekolah tidak hanya perlu membuat siswa paham konsep, tetapi juga peduli terhadap lingkungan.
Salah satu pendekatan yang dapat dicoba adalah pedagogi hijau dalam pembelajaran Biologi. Belajar Biologi dari Lingkungan Sekitar Pedagogi hijau adalah cara belajar yang menjadikan lingkungan sebagai bagian dari proses pendidikan. Siswa tidak hanya belajar tentang lingkungan, tetapi juga diajak memahami hubungan manusia dengan lingkungan dan dampak tindakan manusia bagi keberlanjutan kehidupan.
Biologi sangat dekat dengan pendekatan ini karena banyak materinya membahas makhluk hidup dan lingkungan.
Contohnya: Ekosistem: siswa mengamati makhluk hidup dan benda tak hidup di taman atau kebun sekolah.
Keanekaragaman hayati: siswa mendata jenis tumbuhan dan hewan di halaman sekolah.
Pencemaran: siswa mengamati sampah dan mendiskusikan dampaknya bagi lingkungan.
Pertumbuhan tumbuhan: siswa menanam biji, mencatat perubahannya setiap hari, lalu mencari tahu faktor yang memengaruhinya.
Dengan cara ini, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru. Mereka melihat, bertanya, dan menemukan sendiri hubungan antara materi dan kehidupan nyata.
Bukan Sekadar Belajar di Luar Kelas
Pedagogi hijau tidak cukup dengan memindahkan kegiatan belajar ke luar kelas. Jika siswa hanya mengamati tumbuhan tanpa memahami perannya bagi lingkungan, kegiatan itu hanya menjadi pengamatan biasa.
Pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa diajak menganalisis kondisi lingkungan, menemukan masalah, dan memikirkan tindakan yang bisa dilakukan. Tantangan Penerapan di Sekolah Penerapan pedagogi hijau tentu memiliki tantangan.
Tidak semua sekolah punya lahan luas atau fasilitas pendukung. Guru juga harus menyesuaikan kegiatan dengan waktu pembelajaran dan capaian pembelajaran yang sudah ditetapkan. Tantangan lainnya adalah menjaga agar kegiatan lingkungan tidak menjadi kegiatan tambahan yang terlepas dari pelajaran. Karena itu, guru perlu merancang kegiatan dengan tujuan yang jelas dan tetap berkaitan dengan materi Biologi.
Meski begitu, sekolah tidak perlu menunggu fasilitas lengkap. Halaman sekolah, taman, pepohonan, atau kebun kecil sudah cukup untuk dijadikan sumber belajar. Sekolah dengan lahan terbatas bisa memakai pot atau botol bekas.
Peluang yang Bisa Dimanfaatkan
Pedagogi hijau dapat dipadukan dengan pembelajaran berbasis proyek dan penyelidikan. Siswa diberi masalah lingkungan yang dekat dengan mereka, lalu diajak mengumpulkan informasi, mengamati, menganalisis temuan, dan menyusun solusi. Teknologi juga bisa membantu, misalnya untuk memotret hasil pengamatan, mencari informasi, mengolah data, dan mempresentasikan hasil. Namun, teknologi hanya alat bantu. Yang utama tetap pengalaman belajar dan cara berpikir siswa.
Dari Mengetahui Menjadi Peduli
Siswa mungkin sudah tahu bahwa sampah mencemari lingkungan dan keanekaragaman hayati perlu dijaga. Namun, pengetahuan itu belum tentu membentuk kebiasaan. Karena itu, siswa perlu terlibat langsung: mengamati kondisi lingkungan, menemukan masalah, mendiskusikan dampaknya, lalu memikirkan solusinya. Dari proses ini, mereka belajar mengambil keputusan dan memahami bahwa tindakan manusia punya konsekuensi bagi lingkungan.
Mulai dari Langkah Kecil
Pedagogi hijau tidak harus dimulai dari program besar. Perubahan bisa dimulai dari cara guru memandang lingkungan sebagai sumber belajar dan cara siswa dilibatkan dalam pembelajaran. Guru dapat memulai dengan satu kegiatan sederhana, seperti pengamatan tumbuhan di halaman sekolah, lalu mengembangkannya secara bertahap dan konsisten.
Pada akhirnya, tujuan pembelajaran Biologi bukan hanya agar siswa mampu menjawab soal tentang ekosistem, tumbuhan, atau pencemaran. Siswa diharapkan memahami hubungan manusia dengan lingkungan dan peduli untuk menjaganya.
Melalui pembelajaran yang sederhana, terencana, dan dilakukan terus-menerus, sekolah dapat menyemai kepedulian dan menuai perubahan bagi lingkungan.